Hello!
Welcome to my little blog. Besides the stories, news, perspectives and rantings below. My last tweet was :
""

follow me on Twitter or follow me on PLURK

Thursday, September 28, 2006

Vira kok Kolokan

Dengan kecelakaan yang menimpa Rika, otomatis dia dirumah selama hampir 2 minggu, dan tiap hari, menit dan detik bersama Vira. Its good, tapi akhir-akhir ini Vira mulai kolokan sama mamahnya, maunya cuma digendong mamahnya.

Neneknya gendong, nangis!
Tante-tantenya gendong, nangis!
Papahnya gendong, nangis!
Orang lain gendong, apa lagi, nangisnya dobel kecengnya.

Dan bukan sembarang nangis, nangisnya kejer dan kenceng banget. Pas digendong mamahnya, langsung diem... silent, mirip TV dipencet tombol mute-nya. Bisa gawat nih, apa lagi mamahnya kakinya lagi sakit, jadi kalo gendong ga bisa lama-lama.

Nah, malam hari, jam biasa aku kasih susu, dia ga mau, maunya dikasih sama mamahnya... wah, dah bisa banget bedain orang. Kasihan Rika, harus gendong berdiri. Gue takut aja kalo Rika balik masuk kantor, ntar Vira ngamuk lagi ga mau digendong siapa-siapa.

So, akhirnya pas hari Rabu malam lalu, aku dan Rika ngomong sama Vira (emang ngerti apa) kalo besok mamahnya mau balik ke kantor, jadi dede' Vira mau ya digendong sama nenek... Walau awalnya tanpa hasil (Iya lah, masa' bayi udah ngerti), esoknya, ternyata Vira pas digendong neneknya diem... wah, Alhamdulillah... so far so good lah.

Saat ini paling mencolok dari Vira adalah soal minum susu. Ga mau kalo kita yang megang botolnya, harus dia, dan dia sudah bisa pegang botol itu sendiri... hehehehe... tambah ajaib nih anak gue...

Wednesday, September 27, 2006

2 months until Casino Royale

Yes, I'm a Bond geek.
Loe mo nanya apa aja tentang tokoh rekaan Ian Fleming ini, insyaallah gue punya jawabannya. Gue pertama kali liat James Bond adalah dalam sosok Sean Connery dalam Dr.No, dan gue lihat itu film di TV, Channel 3 ITN, pada hari sebuah minggu di Leicester, Inggris. From then, gue koleksi semua film, novel dan games yang diperani agen 007, bahkan film parody 007 yang dibintangi Peter Sellers (Pink Panther) dan Woody Allen.
Sebetulnya gue kurang mantep sama Bond yang baru; Daniel Craig. Dia lebih mirip tukang pukul dibanding seorang James Bond yang d'bonair dan flamboyant. Tampangnya ga menunjukkan tampang seorang agen yang penuh dengen humor satir ala Inggris. He just looks like a big bully who'll beat the S#!T out of you.


Tapi, karena gue soerang Bond freak, tentunya pada 27 November yang akan datang, gue tentunya bakalan nonton. Logo dalam posternya mirip dengan yang di novel. Who knows, I might just like it.

Friday, September 22, 2006

Dengan segala kerendahan hati...

Ga kerasa ya, bentar lagi udah mulai puasa lagi...
Dengan segala kerendahan hati, tiada manusia dibumi ini yang luput dari kesalahan dan dusta. Mohon maaf lahir dan bathin, dan bagi sesama kaum Muslim lainnya, selamat menunaikan ibadah puasa...

Harap beri komentar, serta alamat surat anda. Who knows, mungkin tahun ini akan ada kartu lebaran mampir ke kotak surat rumah/kantor anda... :-D

Monday, September 18, 2006

Vira ketemu tante Im & om Rehot

Sudah lama aku kenal sama dua mahluk dari Malaysia bernama Im (Ferwima Anwar) dan Rehot (real name unknown), awalnya saat masih aktif banget nge-Blog di textamerica.com dulu. Bulan Februari lalu, aku sempat ketemu Im dan jalan-jalan (or as they say in Malay: "poseng-poseng") keliling Solo, dan pada hari Minggu kemarin, akhirnya aku ketemu dengan Rehot, dan ketemu lagi dengan Im di Jakarta. Saat ketemu, mereka sedang dalam proses check-out hotel mereka dan menunggu transport ke airport.

Sayangnya selama mereka di Jakarta, aku ga sempet ajak mereka keliling-keliling, selain mobilku yang masih di bengkel, kerjaan numpuk dan juga kaki Rika yang masih sakit, jarak tempuh gue otomatis limited to... ya pokoknya ga jauh2 dari dumah dan kantor.

Dengan modal minjem mobil mertua gue, akhirnya kita ketemu di hotel Paragon, pangling juga liat Rehot, mungkin karena sudah lama tak lihat weblognya, diotakku Rehot itu mukanya mirip Azhari (bukan yang teroris itu ya), hehehe... salah. :-p

Anyway, akhirnya merka bisa liat Vira, dan Vira dibawain baju Esprit pink dari tante Im. Too bad kita ga bisa ketemu lama (soalnya mereka mau ke airport), next time mereka ke Jakarta, I hope I can give them the grand tour, the works with cherry on top. Jakarta dari ujung ke ujung. Hopefully Februari 2007, gue dan Rika bakal jalan-jalan ke Malaysia to visit them too.


That legendary smile...

Saturday, September 16, 2006

Gara-gara Bajaj

Sepertinya masih banyak cobaan buat gue bulan ini.
Selain PNS, Polisi dan mobil gue yang lecet, hari Jum'at sore kemarin sempat membuat gue terdiam, life flashing infront of my eyes. Kejadian itu mengkerdilkan semua kejadian sebelumnya.
Sore itu aku sedang mengirim kerjaan via email sembari menunggu mobil bokap. Rencananya aku akan pakai mobil bokap untuk jemput Rika dan Vira karena mobilku sedang direparasi di bengkel. Tepat jam 18.00, mobil bokap sampai. Hybernate laptop dan siap-siap shollat maghrib, tiba-tiba cellphone ku menyalak.
"Chan, Rika ketabrak Bajaj!", seru kak Dewi.
Kaki gue gemeter. 1001 bad scenarios melesat dalam fikiran.

--

Strangely, setelah mendapatkan lokasi rumah sakit dan menutup telpon, I calmly walked away, shollat dan naik mobil menuju RS.Thamrin, Salemba. Sure, I looked calm, tapi sebetulnya otak gue blank... I don't know what to think, gue takut berfikir yang baik-baik karena gue ga mau kaget, dan jelas gue ga mau berfikir yang jelek-jelek. I just want to get there.

Alhamdulillah.....
Rika ternyata baik-baik saja. Sampai di ICU, dokter sedang menjahit kaki Rika. Tak langsung ke Rika, aku pergi ke lantai dua dan shollat syukur. I actually cried a bit before gue kembali ke ICU dan menemani Rika.

Ceritanya, Rika yang biasanya dari kantor di jemput oleh sepupunya a' Rony, hari itu pulang nebeng office boy kantor karena ada selisih di kantor. Sekitar 10 meter dari rumah, kaki rika (her pinky to be exact) beradu dengan pintu bajaj yang ngebut melewatinya.

Ciuman antara kelingking Rika dengan besi pintu bajaj itu menyebabkan Rika harus menerima 12 jahitan di kakinya. Sopir bajaj tersebut kabur, he was fortunate kejadiannya saat Maghrib dimana orang-orang pada shollat, biasanya kejadian seperti itu akan masuk Buser keesokan harinya.

Well, saat ini Rika sehat, dan bisa tersenyum lebar. Vira masih bisa dipeluk sayang mamahnya, and I'm just really happy. Saking happynya, bayar ICU sampai ga terasa (you'll be surprised if I tell you the bill).

Tolong do'a kan agar Rika cepat sembuh. Amin.
Saat ini Rika masih bedrest, dan masih bisa senyum.... well, at least until the medication wears off. :-D

Thursday, September 14, 2006

Reuni Kantor Lama

Semalam gue ketemu sama anak-anak dari kantor lama gue indo.com di Banana cafe, Dharmawangsa Square. Pergi bareng Reni, gue sampai naikin joki 3-in-1 dari kuningan sampai daerah Blok-M Plaza. Udah lama gue ga liat tampang-tampang mereka.
Kerja di indo.com memang punya kenangan tersendiri. Untuk sebuah perusahaan yang memiliki scale cukup besar, karyawan indo.com kenal satu sama lain, dari accounting, marketing, design sampai IT, semuanya kenal baik (kecuali yang jaim-jaim).

Dari makan bareng, nonton bareng, party bareng, dangdutan bareng, dan sampai tidur bareng... no really, kita pada tidur bareng di suatu ruangan, khususnya anak design dan IT yang kerja hampir 24-7. Dan, itu comunal...

Anyway, semalam acaranya sebenarnya ga ada, cuma ketemu-ketemu aja, ketawa-ketawa sampai bocor cerita-cerita jadul (jaman dulu), ngakak kaga karuan dan tentunya ada joged-joged kaga jelas... *halaaaaah*
Banana cafe sendiri tuh kurang asik tempatnya, rada-rada goth, small dan mixed with Arabic style dan sangat tidak jelas. Di dinding ada lukisan seorang wanita tahun 1940-an dengan sebatang rokok (yang menurut gue mirip lintingan ganja) keluar dari mulutnya... who the hell designed this place??!?

Waktu gue denger kalo Gabby lah yang memesan ruangan mirip Harem from hell ini, gue ga surprise, dia emang rada kinky gitu deh, in a weird way.

Bang Iyan sempet protes waktu makanan keluar. Dia yang order duluan, malah belakangan dapetnya. The food wasn't great, I wish I ordered the Sop Buntut.

Yang hadir malam itu antara lain: Rudi Hendian (Babe), KTM (Heri), Bang Ayen (Ian), Kang Azul, Saito N, Ikan Paus, Hiras, Master Reza, ChanChan (gue), Nak Ceppy, Hendra Hafnur, Andre a.k.a AMD (Asisten Menejing Dairekteur), Gelina, Reni, Mami Nia, Farah Sahid (saingannya Paris Hilton) & Gaby tentunya. Tentunya semua hadir membawa personality masing-masing yang emang rada-rada bocor semua dari lahir (baca: cacat bawaan). Tentunya, Panca tidak dateng, dan hiburan utama (Franky joged) tidak tereksekusi dengan baik... pengunjung kecewa, minta tiket balik.

Emang rada colourful sih mahluk-mahluk ex-indo.com, ada beberapa yang dulunya penyanyi dangdut, ada yang dulu tukang nambal ban pesawat, bos pabrik susu, wah,banyak deh.
We will miss our peers yang sekarang sudah menjadi TKI, antara lain Bomis yang jadi dosen di Malaysia, Dewi Purnama, Rudi Tandio dan Erni yang hijrah ke Amerika, serta Goechi yang entah udah ke alam mana.

Tuesday, September 12, 2006

Shavira umur 4 bulan

Dari pada gue makin bhete ngomongin soal PNS, Polisi dan Korupsi, mendingan gue cerita tentang anak gue yang makin pinter, imut, luchu, dan jagoan... the Sun Shine of my life: Shavira Riandra. Vira umurnya udah hampir 5 bulan nih sekarang, jadi Papahnya mo cerita tentang Vira saat menginjak umur 4 bulan.
Vira sekarang sudah bisa ngenalin orang. Dulu digendong siapa aja mau, sekarang udah pilih-pilih. Apalagi kalo pagi Papa sama Mamahnya pamit.. mukanya udah cemberut. Tapi Vira pinter kok om dan tante, ga nangis kalo Papa Mamanya pamit pergi kerja.
Selain sudah kenal muka orang, juga kenal barang. Kalo nangis, langsung diem kalo kelihatan ibunya lagi bikin susu. Udah tau sama yang namanya kain gendongan, kalo ngeliat, langsung senyum dan kedua tangannya udah naik minta digendong, padahal itu kain lagi dilipet habis di cuci. Wah pokoknya matanya udah sigap deh.

Sudah jagoan bolak-balik tengkurep sendiri, kini makin asik sama mainan bayi. Kalo Papa atau Mamanya megang mainan rattle, tangannya langsung menjulur. Gripnya juga kuat banget, kadang kalo megang kalung Mama atau kerah baju Papahnya, susah banget dilepas. "Keturunan gen preman dari bapaknya nih", kata Mamahnya. Kalo udah megang kerah baju atau kaos Papahnya, udah narik-narik deh, macam jagoan.

Sekarang Vira juga udah mulai makan. Pertama-tama makan pisang dihalusin, eh muntah. Kata tante Ami jangan kasih pisang dulu, karena pencernaannya masih belum bagus. Sekarang paling makan bubur dari biscuit bayi aja deh, campur sama jeruk baby (ini jeruk apa sih?? pada bilang kalo ini jeruk baby, bedanya apa sama jeruk biasa ya?).
Udah gitu, Vira sekarang suka banget chatting (baca: ngoceh sendirian). Ngga' pagi, siang, sore atau malem, pasti demen banget chatting. Kalo diladenin, wuih, tambah seru deh chattingnya, sampe ketawa-ketawa histeris gitu.
Vira juga udah makin gede aja, susah cari celana buat dia yang sesuai umur. Sekarang Vira pakai baju dan celana untuk ukuran 1 tahun. Bukan lantaran tambah ndut (walau emang bulet dan lutchu....kayak bapaknya), tapi karena kakinya makin panjang. Celana baru dibeliin, belum ada seminggu udah ngatung. Pakai celana untuk anak 1 tahun sih pas, tapi jadi baggy gitu. Bismillah deh, gedenya kaya' Catherine Wilson... amin...
Jadi ga samabarin nih Vira jadi umur 5 bulan, udah bisa apa lagi ya?? Kapan ya Papahnya bisa ngajarin Vira pake Photoshop??
:-D

Monday, September 11, 2006

September Ceria.... *ihiks*

Disclaimer: Cerita ini tidak ada hubungannya dengan Vina Panduwinata

Enak ya kalo dengerin Vina Panduwinata nyanyi... "September Ceria... September ceriaaa...milik kita, semuaaaaa..."
Tapi tuh lagu bener-bener kaga ngaruh sama gue saat ini. Awal bulan ini, selain gue dirampok sama PNS, tadi siang gue juga kena tilang di deket Monas. Polisinya bego banget.... dah gitu pengen minta duit banget....

Polisi Bego : "Bapak kalau mau lurus tidak boleh ambil paling kiri, karena untuk belok kiri"
Chandra : "Lha kan ada jalur lambat yang untuk belok kiri, yang di jalur cepat ada tulisan dilarang belok kiri"
Polisi Bego : "Tetap aja pak tidak boleh"
Chandra : "Gimana ga boleh??!?! Itu kan jalur cepat untuk lurus semua, kok kamu bilang ga boleh, apa ada yang mau ke kiri???"
Polisi Bego : "eh...euh...kan di reserve buat mobil protokol"
Chandra : "Mobil protokol pake sirine pak, dia mau naik pedestrian juga ada"
Polisi Bego : "Bapak kok ngelunjak, ada pasalnya pak!!"
Chandra : "Loe jadi polisi belajar dimana?? mana pasalnya? gue pengen liat!! Gue dulu sekolah protokoler di Sekneg, loe kira gue kaga tau pasal-pasal protokoler apa!!"
Polisi Bego : "Ya tidak bawa lah buku pasal"
Chandra : "Tambah ajaib lagi sih loe!! Itu di sepatu kamu sebelah kanan, ada buku pasal, ayo coba liat!"
Polisi Bego : "Itu buku tilang pak"
Chandra : "Loe sekolah dimana sih jadi polisi?? Buku tilang kertasnya warna pink, putih dan biru kaya bon, itu buku tebel kertas 120gr itu namanya buku pasal, coba kasih liat soal pasal protokoler, paling disitu cuma ada prosedur pengawalankan"

Polisi Bego : "Ngga' pokoknya bapak saya tilang"
Chandra : "Sampe mampus juga gue kaga mau ditilang, gue kaga salah!!"
Polisi Bego : "Bapak salah, bapak saya tilang!!"
Chandra : "Ok, tilang sana! gue pengen tau loe taruh gue pasal berapa!!"

eh, tuh polisi ke arah motornya, ambil buku tilang.

Chandra : "Buku tilang bukannya di sepatu kamu?? ngapain ambil di motor"
Polisi Bego : "Ini untuk yang Jakarta Pusat"
Chandra : "Lha... kamu emang polisi daerah mana??!? Kamu diluar yurisdiksi!"

eh dia cuek, terus nilang gue, dia nulis pasal 61.

Chandra : "Pasal 61? Emang gue melewati daerah verboden apa??!? Sejak kapan ini satu arah?!?"
Polisi sok tau : "Ada apa sih nih, kok lama-lama?"
Polisi Bego : "Bapak ini salah ga mau ditilang"
Polisi sok tau : "Ya udah lah pak, damai aja, berapa aja deh pak"
Chandra : "........"
Chandra : "eh mas, loe tilang aja deh, serah mo nulis pasal apa, yang ajaib sekalian aja mas, gue dah males ketemu polisi macem loe-loe pada"

...dan secepatnya gue cabut dari situ. Sidang tanggal 26, ah mendingan gue bayar sidang deh daripada ngeladenin lintah macam mereka.

Eh, pas gue kira itu dah over, sesampainya di kantor, pas setelah gue ngunci mobil dan jalan menuju kantor... "BRAK!!!!"
Mobil gue yang lagi parkir ditabrak. Serasa mo pingsan ditempat. What did I do that was so wrong?? Hari ini kok sial banget sih. Gue dah linting lengan baju, siap ngegampar.....kakek-kakek... halah*
Masa' kakek-kakek mau gue gampar... kaga tega lah.

Saat itu juga gue teringat kata-kata Haji Zaenal...
*nostalgia mode = ON*

"Hati itu bagaikan air yang jernih. Cobaan itu bagaikan kotoran, yang jika kita masukkan dalam hati, maka akan keruh hati tersebut. Apa bila kita membiarkan hati kita bersih dan menganggap semua cobaan tersebut adalah hikmah dari Allah agar membuat kita rendah hati, maka dikoyak atau diaduk sekuat apapun, air tersebut akan tetap bersih"

*nostalgia mode = OFF*

Serius, gue nostalgianya emang sepanjang itu... kurang background musik sama angle-shot dari bawah dan angin yang bertiup menerbangkan dedaunan (epic sekali...)

Akhirnya gue selesaikan masalah dengan orang-tua tersebut, malah memberikan suggestion agar menggunakan Asuransi mobilnya untuk membayar kerusakan. Setelah itu aku shollat Ashar, mungkin aku sial karena telat solatnya (tapi emang lagi di jalan sih dari tadi). Oh well...

Oh ya, that whole nostalgic thing, itu tidak merubah pandangan gue bahwa Polisi Lalu-Lintas di Jakarta ini emang ngga ada bedanya sama kriminal....

"September ceria.... September ceriaaaaaaaaaa........milik kita, seemuaaaa...."

Sunday, September 10, 2006

PNS Sucks!!

Kalo anda PNS, silahkan ngaca dan coba jawab pertanyaan ini: Do you suck?
As of today, saya memutus semua client yang bersifat BUMN, I have had enough of you all, and currently thinking of moving permanently to England or Singapore. Gue udah di ujung toleransi akan korupsi di pemerintah.

Pertama-tama, tidak semua PNS menyebalkan, cuma sekitar 90% dari mereka.
Kedua, tidak semua PNS korupsi, cuma sekitar 95% dari mereka
Ketiga, tidak semua PNS perampok, cuma sekitar 60% dari mereka

Selama ini gue strict terhadap client BUMN: I don't overprice, dan standard marketing fee is 15%, not more not less, dan itu dari keuntungan perusahaan, bukan dari "pak, nitip dong, harganya dinaikin 500 kali lipat". Everything is in black and white.

Banyak dari teman gue ga pernah ngajak gue meeting dengan orang BUMN, karena pasti saat mereka ngomong harga dan minta "nitip", I usually pack up and leave. Gue merasa terhina kalo mereka minta harga gue di mark up buat mereka... hey, I pay my taxes, loe minta korupsi dari duit gue yang gue kasih ke negara untuk gaji dan proyek loe.... No wonder nih negara tidak berkembang, sebab PNS macam mereka makan itu duit haram, dan kalo gue bilang ya, duit yg gue dapet juga haram, you expect me to feed my wife and kids with that!!!

Ternyata strictnya gue mulai tidak ngaruh. Tiap tahun mereka makin berani ngomong dan nodong didepan saat meeting rame-rame, dan kalo mereka ga bisa mark-up, mereka merampok, and that is what happened. Dalam tahun ini gue dirampok dua kali, and that pisses me off...

Pertama oleh Departemen Industri, saat pengambilan 60% dari payment akhir setelah pekerjaan selesai, gue dirampok 37 juta rupiah, langsung di depan gue, tanpa malu, pake ngancem ga ngasih kerjaan(like I want your next job), ngancem ga bayar (dengan cara memalsukan tanda terima), atau bahkan siap mempersulit hidup gue dengan membuat laporan palsu tentang pekerjaan gue.

Saat itu gue siap nampol tuh muka orang pake laptop gue, guns blazing, the works..., tapi gue ada 4 programmer dan 5 orang network installer yang harus gue bayar, all familymen (and women), dan partner gue ga berani taking chances.
Gue terpaksa menyerah, literally my tails between my legs.

Yang kedua terjadi beberapa hari yang lalu. Pembelian 40 tiket untuk Departemen Pekerjaan Umum. Saat mengambil uang, pemebelian, mereka dengan enaknya mengambil potongan mereka sebelum memberikan uangnya ke karyawan gue.. Dari 40 tiket yang pemebeliannya worth 40juta rupiah, gue cuma dikasih 250 ribu...
Gue nyesel ga ada disana (karena travel ditangani karyawan), karena gus pengen banget seret tuh orang dan gue arak keliling kota dengan plakat tulisan "koruptor & rampok" di kalungin di dadanya...

Seriusly, no more BUMN clients. They can all go to hell...

Wednesday, September 06, 2006

Crikey Mate!!

You gotta be joking!
Gue antara ketawa atau serius pas denger kalo Steve "The Crocodile Hunter" Irwin, meninggal dibunuh oleh ekor ikan pari sepanjang 30cm.

Crocodile Who??!?

Wah, kalo sampai kaga' tau mah kurang ajar. Ini orang yang main seri TV Crocodile Hunter, yang guling-guling sama buaya, ciuman sama uler... saking parahnya istri sama anaknya pada ikutan juga...
Bisa dibilang ini salah satu guilty pleasures gue di TV, apalagi saat dia emang digigit buaya atau uler. Wah, emang udah ngga' kaget pas denger dia kena ekor ikan pari, tapi sampai mampus... walah.

Ternyata, dia tertusuk tepat di jantungnya. Racun langsung ngebunuh jantung dan wassalam, he died instantly. Shocking huh. Not the best way to die... Tapi ya hidup mati ditangan tuhan, all I can say now is that I hope his wife and kids stay strong. Kasihan Bindi Sue, anaknya yang imut dan sering main sama uler berbisa.

Steve Irwin, lahir 1962, dan dari caranya berbica, merupakan salah satu orang kampung di Australia, dan dari kekampungannya itu dia jadi terkenal dan menjadi ikon Australia. Seriously, kalo gaya bicaranya dan kelakuannya ngga' kampungan Australia banget, gue ngga bakalan nonton, jadi ngga lucu. Film yng pernah dia buat juga ngga begitu bagus, tapi membuat gue ketawa dari ujung ke ujung macam nonton "The Gods Must Be Crazy". Yang utama, dia adalah icon dari pelestarian alam Australia dan dunia.

Tuesday, September 05, 2006

Obsesi Karpet Mama...

"Mas, beli karpet mas..."
Gitu tuh, suami baru sampai rumah setelah 5 jam di pesawat bukannya di pijetin, bikinin teh manis kek, eh udah ngajak ke ITC cari karpet.
Emang rada salah gue juga sih, permintaan ini sebenernya udah lumayan lama, cuman gue cukup tidak
pakai otak aja waktu itu bilang "iya, ntar beli karpetnya pas aku balik"... Ya tentunya waktu gue bilang itu, tentunya tanpa bermaksud tiap kata gue diambil serius as in sesampainya gue di tanah air.

Rencananya bulan November ini orang yang mengontrak di rumahku akan pindah, dan paling cepat bulan Januari ini aku, Rika dan Vira akan pindah kesana. Saat ini kita masih miskin furniture, paling baru kamar tidur aja yang sudah siap, dapur dan ruang tamu masih nyicil.

Nah! Itu dia!

Tiba-tiba Rika kok jadi prioritas banget beli karpet. Waktu itu sih emang bilang sama dia kalo belum punya sofa buat ruang tamu, kita beli karpet aja, jadi bisa lesehan kalo ada tamu, eh taunya dia ngebet banget jadi beli karpet, tiada hari tanpa "Mas, beli karpet yuuuk"
So, dari pada kebayang gue ngga bakalan bisa tidur ntar malem karena mimpi karpet terbang, akhirnya gue setuju nganter dia ke ITC Cempaka Mas situ. Lumayanlah, sekalian cari film DVD.

Senin sore, pertamanya sih ke pasar Senen dulu, kata mertua gue harganya murah...
"Pasti tutup", kata gue
"Kaga' positip nih"
"Udah sore, kaya' gue belum pernah ke pasar Senen aja"
"Positip dong..."
"Gimana positip kalo udah pasti negatip... kita ngomongin apaan sih?"

...dan bener. Dah tutup yg jual karpetnya.

So, akhirnya langsung deh kita ke ITC, menyisir beberapa toko karpet, sampai akhirnya kaki gue bener2 kaga kuat. Cape bener euy. Ya udah, kata Rika gue duduk2 dulu aja biar ntar kuat gotong karpetnya.... *halah, jadi kuli gue.

Setengah jam kemudian dia telpon:
"Mas, udah dapet nih! Kesini ya, gotong ke mobil!"
Ngeloyor dah gue kesana, ke tempat Rika beli karpet. Rika beli karpet yang lumayan besar, 2m x 3m.
"Lu beli karpet gede amat??! Mau buat buka bersama puasa besok apa mo buka rumah makan lesehan??"
"Murah ini mas", jawab Rika
"Berapa emangnya?"
"Sejuta dua ratus"
"Buset, katanya nyari yang gopek'an??"
"Pake kartu kredit ini, bisa dicicil"
"Tumben pake kartu kredit sendiri"
"Pake kartu kredit mas kok" jawab Rika enteng, sembari ngasih gue kertas bukti transaksi buat gue tanda tangan.
"Lha... kapan ngambilnya di dompet gue??"

Moral of the story is.... What Moral??!?!?! Tekor gue.
Yang pasti, setidaknya gak ada yang minta beli karpet besok-besok.

Good night... (:


Friday, September 01, 2006

A Brief Beginning... (farewell boys)

Saat sarapan tadi pagi Rika memberikan kabar bahwa sepupunya teh'Ai melahirkan bayi kembar-siam di Bandung, dan keduanya dalam keadaan sehat, menunggu operasi. Keduanya menempel di dada, Alhamdulillah hanya kulitnya yang menyambung.

Menurut situs www.pikiran-rakyat.com (koran paling top di Bandung euy), keduanya lahir secara cesar di Rs.Mitra Kasih Cimahi dengan berat badan 41kg dan panjang 33cm, menyatu dari dada hingga perut sepanjang 10cm.

Namun barusan aku dikabarkan bahwa kedua bayi tersebut meninggal pada jam 9 pagi tadi, dan sebuah shock bagi sebagian orang, tentunya karena bayi tersebut dalam keadaan stabil serta keduanya hanya tersambung di kulit saja. Saat sebelum dimakamkan, keduanya diberi nama: Sakila dan Sakina, yang berarti harmonis.

Mari kita do'akan semoga kedua orangtuanya diberikan ketabahan. Amin.

AlungBanua

Pagi ini aku dikejutkan dengan "Buzz" di Yahoo Messanger. Helmi, teman saat kuliah di Bandung dulu memberikan dua link website. Alung Banua judulnya, tanpa ragu aku segera menuju kesana.
"Kampret!"
Tuh anak bikin film lagi.

Film pertama yang di bikin memang jauh dari kesan bagus, hell I slept through most of it. Plot ngga jelas, dll. Tapi itu ngga' ngebikin semangat dia down. Tak lama dia dan anak-anak kampus (yang sebagian besar tergabung dalam proyek TVC) langsung membuat film lagi. Sebuah improvement, dari segi story dan ide.

Helmi ngga' berhenti berkarya, dan kritikan macam dari gue dan anak-anak yang lain dia jadikan semangat pemicu untuk berkarya, and for that he earned my respect.

Dari bawah ia memulai, dan kini dengan resume film yang banyak, dia membuat karya terbarunya berjudul Alung-Banua. Gue belum liat sih, but should be interesting, dan kalo tau Helmi, pasti lebih bagus dari film sebelumnya.


"Bahasa Melayu Manado dan akting para pemeran meluncur dengan alamiah. Sama sekali tak muncul kesan bahwa ini adalah sebuah film dengan dialog yang telah direkayasa untuk dituturkan para pelakonnya.."

Kawanua Polis, Kamis 15 September 2006

Tadi pagi aku telpon mba' Sandra untuk ngebantu set-up premiere filmnya di Jakarta. Aku kirim cuplikan koran Menado yang memuat filmnya di front page. Hebat, temen gue dah masuk front page koran, lokal apa kaga ngga penting, toh gue aja ngga bisa.

Bagi yang tertarik untuk menonton film ini, harap kontak saya, semakin besar peminatnya, semakin gampang bagi saya buat bikin premiere di Jakarta. Sukses dan Salut buat Helmi, hoping to see more of his work in the future!


For more information: www.alungbanuafilm.blogspot.com