Hello!
Welcome to my little blog. Besides the stories, news, perspectives and rantings below. My last tweet was :
""

follow me on Twitter or follow me on PLURK
Showing posts with label Accident. Show all posts
Showing posts with label Accident. Show all posts

Friday, August 03, 2007

Is Rika Responsible For Mississipi Bridge Disaster?

Thursday morning, and on our way to work. Seperti biasa kita setel radio sepanjang jalan hingga sebuah berita menarik perhatian kami:
"Sebuah Jembatan Besar Roboh Di Mississpi, Amerika".
Kontan setelah mendengar headline berita itu, Rika dengan nada ketus berkata:
"Sumpah, gue ga deket-deket tuh jembatan kemaren. Jauh kali Mississipi sama Jakarta!!"
"Emang siapa yang nyalahin luh?", gue tanya.
"Lha itu kata penyiarnya!!"
"Masa sih??!??", jawab gue, masih belum ngerti.
"Dia bilang gue yang ngerobohin, jelas-jelas kemaren Rika sama Mas Ican dan Vira"
"Emang dia bilang nama lo??", gue tanya lagi.
"Iya, dia bilang Jembatan Roboh di Mississipi Ame Rika. Mana Kuat Rika! Ame Herkules kali!!"

"DYAJUS Luh!!!!"

Monday, April 30, 2007

Serangan Fajar

Tadi pagi gue bangun dengan rasa sakit yang lumayan bikin gue guling-guling. Sepertinya penyakit lama gue kambuh. Terakhir gue kena maag, gue kelas 2 SMP. Selama ini gue "Maag Free". Namun sepertinya tadi pagi, penyakit lama itu menyerang kembali.
Syukurnya, gue berhasil sampai apotik 24 jam di pagi buta dan membeli obat sakit maag. Sudah reda sih, tetapi saat ini sepertinya gue harus makan teratur (jam makannya).


Bon apetite...

Saturday, September 16, 2006

Gara-gara Bajaj

Sepertinya masih banyak cobaan buat gue bulan ini.
Selain PNS, Polisi dan mobil gue yang lecet, hari Jum'at sore kemarin sempat membuat gue terdiam, life flashing infront of my eyes. Kejadian itu mengkerdilkan semua kejadian sebelumnya.
Sore itu aku sedang mengirim kerjaan via email sembari menunggu mobil bokap. Rencananya aku akan pakai mobil bokap untuk jemput Rika dan Vira karena mobilku sedang direparasi di bengkel. Tepat jam 18.00, mobil bokap sampai. Hybernate laptop dan siap-siap shollat maghrib, tiba-tiba cellphone ku menyalak.
"Chan, Rika ketabrak Bajaj!", seru kak Dewi.
Kaki gue gemeter. 1001 bad scenarios melesat dalam fikiran.

--

Strangely, setelah mendapatkan lokasi rumah sakit dan menutup telpon, I calmly walked away, shollat dan naik mobil menuju RS.Thamrin, Salemba. Sure, I looked calm, tapi sebetulnya otak gue blank... I don't know what to think, gue takut berfikir yang baik-baik karena gue ga mau kaget, dan jelas gue ga mau berfikir yang jelek-jelek. I just want to get there.

Alhamdulillah.....
Rika ternyata baik-baik saja. Sampai di ICU, dokter sedang menjahit kaki Rika. Tak langsung ke Rika, aku pergi ke lantai dua dan shollat syukur. I actually cried a bit before gue kembali ke ICU dan menemani Rika.

Ceritanya, Rika yang biasanya dari kantor di jemput oleh sepupunya a' Rony, hari itu pulang nebeng office boy kantor karena ada selisih di kantor. Sekitar 10 meter dari rumah, kaki rika (her pinky to be exact) beradu dengan pintu bajaj yang ngebut melewatinya.

Ciuman antara kelingking Rika dengan besi pintu bajaj itu menyebabkan Rika harus menerima 12 jahitan di kakinya. Sopir bajaj tersebut kabur, he was fortunate kejadiannya saat Maghrib dimana orang-orang pada shollat, biasanya kejadian seperti itu akan masuk Buser keesokan harinya.

Well, saat ini Rika sehat, dan bisa tersenyum lebar. Vira masih bisa dipeluk sayang mamahnya, and I'm just really happy. Saking happynya, bayar ICU sampai ga terasa (you'll be surprised if I tell you the bill).

Tolong do'a kan agar Rika cepat sembuh. Amin.
Saat ini Rika masih bedrest, dan masih bisa senyum.... well, at least until the medication wears off. :-D

Monday, September 11, 2006

September Ceria.... *ihiks*

Disclaimer: Cerita ini tidak ada hubungannya dengan Vina Panduwinata

Enak ya kalo dengerin Vina Panduwinata nyanyi... "September Ceria... September ceriaaa...milik kita, semuaaaaa..."
Tapi tuh lagu bener-bener kaga ngaruh sama gue saat ini. Awal bulan ini, selain gue dirampok sama PNS, tadi siang gue juga kena tilang di deket Monas. Polisinya bego banget.... dah gitu pengen minta duit banget....

Polisi Bego : "Bapak kalau mau lurus tidak boleh ambil paling kiri, karena untuk belok kiri"
Chandra : "Lha kan ada jalur lambat yang untuk belok kiri, yang di jalur cepat ada tulisan dilarang belok kiri"
Polisi Bego : "Tetap aja pak tidak boleh"
Chandra : "Gimana ga boleh??!?! Itu kan jalur cepat untuk lurus semua, kok kamu bilang ga boleh, apa ada yang mau ke kiri???"
Polisi Bego : "eh...euh...kan di reserve buat mobil protokol"
Chandra : "Mobil protokol pake sirine pak, dia mau naik pedestrian juga ada"
Polisi Bego : "Bapak kok ngelunjak, ada pasalnya pak!!"
Chandra : "Loe jadi polisi belajar dimana?? mana pasalnya? gue pengen liat!! Gue dulu sekolah protokoler di Sekneg, loe kira gue kaga tau pasal-pasal protokoler apa!!"
Polisi Bego : "Ya tidak bawa lah buku pasal"
Chandra : "Tambah ajaib lagi sih loe!! Itu di sepatu kamu sebelah kanan, ada buku pasal, ayo coba liat!"
Polisi Bego : "Itu buku tilang pak"
Chandra : "Loe sekolah dimana sih jadi polisi?? Buku tilang kertasnya warna pink, putih dan biru kaya bon, itu buku tebel kertas 120gr itu namanya buku pasal, coba kasih liat soal pasal protokoler, paling disitu cuma ada prosedur pengawalankan"

Polisi Bego : "Ngga' pokoknya bapak saya tilang"
Chandra : "Sampe mampus juga gue kaga mau ditilang, gue kaga salah!!"
Polisi Bego : "Bapak salah, bapak saya tilang!!"
Chandra : "Ok, tilang sana! gue pengen tau loe taruh gue pasal berapa!!"

eh, tuh polisi ke arah motornya, ambil buku tilang.

Chandra : "Buku tilang bukannya di sepatu kamu?? ngapain ambil di motor"
Polisi Bego : "Ini untuk yang Jakarta Pusat"
Chandra : "Lha... kamu emang polisi daerah mana??!? Kamu diluar yurisdiksi!"

eh dia cuek, terus nilang gue, dia nulis pasal 61.

Chandra : "Pasal 61? Emang gue melewati daerah verboden apa??!? Sejak kapan ini satu arah?!?"
Polisi sok tau : "Ada apa sih nih, kok lama-lama?"
Polisi Bego : "Bapak ini salah ga mau ditilang"
Polisi sok tau : "Ya udah lah pak, damai aja, berapa aja deh pak"
Chandra : "........"
Chandra : "eh mas, loe tilang aja deh, serah mo nulis pasal apa, yang ajaib sekalian aja mas, gue dah males ketemu polisi macem loe-loe pada"

...dan secepatnya gue cabut dari situ. Sidang tanggal 26, ah mendingan gue bayar sidang deh daripada ngeladenin lintah macam mereka.

Eh, pas gue kira itu dah over, sesampainya di kantor, pas setelah gue ngunci mobil dan jalan menuju kantor... "BRAK!!!!"
Mobil gue yang lagi parkir ditabrak. Serasa mo pingsan ditempat. What did I do that was so wrong?? Hari ini kok sial banget sih. Gue dah linting lengan baju, siap ngegampar.....kakek-kakek... halah*
Masa' kakek-kakek mau gue gampar... kaga tega lah.

Saat itu juga gue teringat kata-kata Haji Zaenal...
*nostalgia mode = ON*

"Hati itu bagaikan air yang jernih. Cobaan itu bagaikan kotoran, yang jika kita masukkan dalam hati, maka akan keruh hati tersebut. Apa bila kita membiarkan hati kita bersih dan menganggap semua cobaan tersebut adalah hikmah dari Allah agar membuat kita rendah hati, maka dikoyak atau diaduk sekuat apapun, air tersebut akan tetap bersih"

*nostalgia mode = OFF*

Serius, gue nostalgianya emang sepanjang itu... kurang background musik sama angle-shot dari bawah dan angin yang bertiup menerbangkan dedaunan (epic sekali...)

Akhirnya gue selesaikan masalah dengan orang-tua tersebut, malah memberikan suggestion agar menggunakan Asuransi mobilnya untuk membayar kerusakan. Setelah itu aku shollat Ashar, mungkin aku sial karena telat solatnya (tapi emang lagi di jalan sih dari tadi). Oh well...

Oh ya, that whole nostalgic thing, itu tidak merubah pandangan gue bahwa Polisi Lalu-Lintas di Jakarta ini emang ngga ada bedanya sama kriminal....

"September ceria.... September ceriaaaaaaaaaa........milik kita, seemuaaaa...."

Friday, March 12, 2004

Car Crash... domino style


After subuh prayer and reading the Qur'an (not perfect reading, but I try), I received a phone call from Arief; Riska is in a car accident.

I put on some clean pants and shirt and rushed out to get Arief from his apartment. The guy's been feeling under the wheather lately. Once I got him into the car, we set off to pick up Riska.


It seems a taxi cab suddenly stopped causing a domino collision to 7 cars, Riska's car was the fourth on the line. Arief drove Riska home while I took Riska's car to the garage. Took pictures of the car, including Riska's grief over the car.

Poor kid, well at least she's getting her car back in a week.

Lilypie 3rd Birthday Ticker Lilypie 1st Birthday Ticker