Hello!
Welcome to my little blog. Besides the stories, news, perspectives and rantings below. My last tweet was :
""

follow me on Twitter or follow me on PLURK

Saturday, July 11, 2009

Hidup di Jakarta Itu Mahal Ternyata... [2]

Setelah posting soal living cost gue di Jakarta pada bulan Desember 2008, kok semua orang merasa takjub, gak percaya. Ada yang bilang diirit-iritin lah, ada yang bilang gue nipu lah. Yah gue sih terserah pembaca sih, kalian berhak atas pendapat masing-masing.
Terus terang ada peningkatan pengeluaran sejak 6 bulan yang lalu, tertama sejak Vira mulai sekolah. Dan penambahan biaya agar lebih rinci pengeluaran gue akan dijabarkan kembali dibawah, lengkap dengan tanggalnya.

Mungkin kudu kenal lebih dalam dulu mengenai gue supaya lebih memudahkan untuk make sense. Gue ini adalah entepreneur yang lahir dari seorang entepreneur juga dan seorang akuntan. Dari kecil ya gue diajarin supaya pengeluaran minim dan penghasilan maksimum (makanya gue dibilang pelit pas kecil, hehehe).

Selain itu gue seorang strategist. Hidup gue dilandasi oleh design agar hidup gue lebih hemat dan maksimum. Itulah kenapa gue kerja sendiri dan memilih lokasi kerja yang deket rumah, pilih mobil yang hemat walau culun, dan lain sebagainya.

Istri gue? Wah dia lebih ketat lagi. Orang terdekat gue tau kalo panggilan sayang buat istri gue adalah "Menteri Keuangan", karena 90% gaji gue ya dia yang megang, dan dia yang ngontrol pengeluaran gue.

So, Here is the updated version of our expenses circa June 2009:

Living Cost

  • Belanja bulanan*1 per struk Carrefour 28 Juni 2009 : Rp.972.000
  • Belanja pasar*2 @ Rp.25.000 perhari : Rp.750.000
  • Tagihan listrik (19 Juni 2009) : Rp.352.000
  • Tagihan PAM (19 Juni 2009) : Rp.15.000 (abonemen only, gak pernah dipake)
  • Tagihan AQUA gallon (6 Juli 2009) : 120.000
  • Tagihan gas masak sebulan*3 : Rp.25.000
  • Tagihan kebersihan & keamanan (30 Juni 2009) : Rp.50.000
  • Tagihan telepon rumah (19 Juni 2009) : Rp.72.000
  • Tagihan seluler prepaid*4 (30 Juni 2009) : Rp.100.000
  • Tagihan cable TV (15 Juni 2009) : Rp 150.000
  • Tagihan internet FirstMedia : Rp.135.000
  • Gaji nanny Vira : Rp.450.000
  • Jajan Vira sebulan : Rp.25.000
  • SPP playgroup Vira : Rp.150.000
  • Langganan majalah : Rp.120.000
  • Asuransi kesehatan : Rp.250.000
Total living cost only : Rp.3.736.000


Transportasi & Asuransi
  • Bensin sebulan*5 : Rp.400.000
  • Ongkos bengkel*6 : Rp.250.000
  • Cicilan mobil*7 : Rp.750.000
  • Asuransi mobil*8 : Rp.141.700
Total transportasi & asuransi : Rp.1.641.700

Grand Total montly cost = Rp.5.378.700

Penjelasan:
*1 : Termasuk susu anak, diapers, indomie, buah, saus & rempah, toiletries (sabun, pasta gigi, dll), sabun cuci, sirop, teh, sabun cuci, softener, cairan pel, dll.
*2 : Daging sapi/ayam seharga Rp.12.000, sisanya rempah, sayur dan telur.
*3 : 1 tabung habis dalam 3 bulan, jadi Rp.75.000 dibagi 3.
*4 : Demi Allah gue dan istri Cuma habis masing-masing Rp.50.000 per orang. Kita kerjanya cuman SMS dan jarang telpon ke orang lain. Kalo telpon ke sesame karena satu layanan jadi murah.
*5 : Sesuai 4 struk bensin selama bulan Juni 2009 masing-masing Rp.100.000 (22.2 liter). Mobil gue Xenia 1000cc, sengaja gue beli karena hemat cui.
*6 : Ongkos diluar reparasi. Servis 2 bulan sekali, jadi dibagi 2 harganya.
*7 : Hutang mobil Cuma 40jt, jangkan waktu 5 tahun dengan bunga flat 3% (pinjaman karyawan), silahkan hitung sendiri.
*8 : Sesuai kontrak yaitu 8,5jt/5thn = 8,5 dibagi 5, lalu dibagi 12 = Rp.141.700.


Ini semua tentunya belum termasuk tabungan. Kenapa tidak termasuk tabungan??
Bagi gue tabungan itu adalah uang yang tidak kemana-mana atau uang terencana. Expense seperti biaya pendaftaran dan uang pangkal sekolah Vira gak termasuk dalam expenses gue, karena sudah direncanakan.
Ini juga termasuk uang jajan, uang makan-makan ke restoran, uang vacation, dll. Itu semua masuk tabungan agar terkontrol. Gue dan keluarga habis sekitar 200 - 250.000 (ya, cuma segitu, ada penjelasannya nanti) sebulan untuk makan-makan bareng, dan itu keluar dari tabungan dan kita tau berhentinya kapan. Kalau mau ada acara bulan depan, ya bulan ini kita makan di rumah aja.

Berapakah yang gue tabungin sebulan?
Tabungan pendidikan (untuk biaya masuk sekolah, non-spp) : Rp.300.000
Tabungan liburan : Rp.250.000
Tabungan pribadi : Rp.300.000
Tabungan jalan-jalan/makan-makan: 300.000
Tabungan dana darurat : Sudah keisi 12x gaji, jadi gak perlu diisi lagi.

Kalau ditambahkan memang lebih dari 6jt sebulan, tapi duit tabungan kan di tetep milik gue dan bukan expenses bulanan. Lagian yang protes kan lebih dari 6jt belum termasuk tabungan kan??

Here's a good question:
"Loe kan sering makan-makan sushi, masa' sih pengeluaran makan lo cuman segitu?"

My friends, that is why its good to be the boss. Kalo lo liat di blog foto atau facebook gue, kan semua itu makan siang, dan pasti selalu bersama client (walau client kagak gue foto kali). Kalo gue lunch dengan client dan rapat, itu kan expenses kantor, bukan gue dong yang bayar. Please deh, kalo gak sama client gue juga makannya pecel ayam di perempatan Pemuda-Pulomas. Paling mahal kwetiau siram yang 12.000 per porsi.

The point here, kalo kantor lo gak ngasih benefit lunch atau entertain client, bikin usaha diri gih dan berikan benefit itu pada dirimu. I have no credit card debt and is happy as a bird.
Oh ya, plus one more thing. Gaji Rika 100% dipake sama dirinya, jadi gue minim ngasih duit dia buat belanja :-D

So yeah, thats my expenses. How's yours?

Wednesday, June 24, 2009

Your Fenjer Is Yor Preeeeen...

Ada seorang sales dari perusahaan security datang minggu lalu meminta waktu untuk presentasi, dan hari ini dia datang kembali untuk memberikan presentasi produknya kepada kami.
Sales bernama Agus (nama samaran) ini lumayan dandy dan super supel. Percaya diri tinggi lah, dengan luwes dia berkenalan dan membagikan kartu nama sesampai di ruang meeting. Terlihat sangat sophisticated.
Setelah memasang laptopnya dia memulai presentasi:

"Bapak-bapak dan ibu-ibu, saya dari PT.ABCDE (nama perusahaan saya samarkan) ingin memberikan demonstrasi teknologi fenjer pren kami", sales security itu memulai.

"Teknologi apa mas?", tanya karyawan bagian purchasing yang ikut.
"Fenjer pren bu, fenjer pren".

"Fenjer pren??"

"Ya, fenjer pren atau sidik jari. Masa ibu kerja di lembaga bahasa Inggris gak tau fenjer pren"

Kontan banyak dari peserta yang ikut hadir tersenyum dan tertawa kecil, namu sang sales yang super pede itu meneruskan seakan perfikir semua orang menertawakan ibu Nur yang dibilang gak ngerti bahasa Inggris.

Presentasi berjalan selama kurang lebih 30 menit, dan selama itu pula sang sales terus menyebut "Finger Print" dengan "Fenjer Pren", serta salah satu kata yang cukup membuat kita geli saat ia menyebut bagaimana perangkat lunak yang ia miliki sangat "puser prenli" dan bisa digunakan untuk 250 puser.
Tak lupa, kata Fenjer Pren dan Puser juga ada dalam presentasi power pointnya.

Saya cukup bangga karena karyawan kantor saya cukup memiliki sopan-santun untuk tidak mentertawakan tamu, namun bendungan itu jebol ketika sang sales menutup presentasinya dengan bergaya dan berkata:

"Jangan lupa produk Fenjer Pren kami ya pak, karena Your Fenjer is your prend!"

Kami pada ketawa semua, namun cukup terlatih untuk melakukan itu sambil applause. Sang salesman yang dandy itu pun bangga dan pulang dengan wajah berbinar.

Tuesday, May 19, 2009

Koprol : Social Network, Indonesian Style

For the past year most of us has our secret projects on the works, and one of a good friend I know from fickr has been busy with his colleagues in starting their own social network site. Their plan of combining status updates and location is not something new, but it is something no one ever exploited.

Head on over to Koprol.com, they recently started their public beta today after rigorious testing process for the past 6 months. Their concept is actually based on how people in Jakarta socialize, where kopdar (getting together in one spot just for fun with online friends) is an everyday thing. Koprol helps people to find out where their friends are, and let them message friends closest to their location for a meet. Not that I've done this yet, but the technology is here.

So what are you waiting for? Go ahead and give it a shot.

Thursday, April 30, 2009

Istri Yang Bijaksana

Seorang rekan dosen merintis sebuah usah bersama dengan orang terdekatnya. Setelah 3 bulan berusaha, ternyata dirinya ditipu. Temannya tersebut mengambil habis seluruh uang dan menjual semua modal usaha mereka dan kabur. Ia sakit hati dan gundah. Akhirnya ia memberanikan diri untuk memberitahukan istrinya.

"Mama, papa minta maaf, tapi Papa baru saja ditipu. Uang yang kita tanamkan di usah tersebut habis ludes dibawa kabur".

Istrinya terdiam, tak berbicara sepatah katapun hingga waktu yang cukup lama. Ia lalu memandang suaminya dan berkata: "Alhamdulillah".

Sang suami terkejut, mencoba memahami maksud istrinya.

"Alhamdulillah Pa, untung kamu yang ketipu, dan buka kamu yang nipu".

Kata-kata itu pendek, namun sarat dengan makna. Kita bersyukur bahwa kita ini bukan orang yang jahat dan penipu. Kita bersyukur bahwa kita diberikan cobaan dari Tuhan, dan secara bersamaan memberikan dukungan dan support bahwa hal itu bukan persoalan besar dan sang istri yakin suaminya dapat bangkit dan berusaha lagi.

Ya Allah, aku berharap bisa mendapatkan dukungan yang sama disaat diriku jatuh. Semoga diriku diingatkan selalu bahwa hidup ini penuh warna-warni cobaan dan kita ini harus terus berjalan dan berjuang dalam keadaan apapun.

Friday, March 27, 2009

Freelancing Done Right Seminar

Freelancing Done Right Seminar


Behind The Scenes
Setelah 1 bulan berembuk dengan Aria Rajasa, akhirnya kita dapat merealisasikan rencana kita untuk membuat sebuah seminar mengenai freelancing dan evolusinya menjadi sebuah usaha yang mandiri. Seminar yang kita namakan "Freelancing Done Right" merupakan pengembangan dari materi presentasi yang pernah saya bawakan pada acara FreSh! (Freedom of Sharing) bulan November lalu. Lebih dari 300 email yang masuk ke inbox saya berisikan pertanyaan mengenai freelancing membuat saya ingin membuat seminar untuk merespon terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Bulan Januari lalu saya mulai merencanakan seminar ini, mencari partner atau bendera dimana saya bisa memulai ini. Alhamdulillah saya bertemu dengan manusia-manusia dari ruangfreelance.com yang menyambut baik ide saya ini, yang diikuti dengan banyak sarapan pagi di McDonald Duren Sawit.
Kita sepakat untuk mencoba dulu dengan limited crowd. Tadinya cuma 20 orang, meningkat jadi 25 dan akhirnya 30. Menggandeng OBC (Oxford Business College) untuk sertifikasi, Alhamdulillah kita mendapat response baik, tiket habis dalam kurun 1 minggu, bahkan antusias mereka yang mau hadir banyak sekali hingga tak tertampung. Next time kita bikin yag besar deh guys. Amin.

The Show
Diadakan pada 21 Maret 2009 di cafe Au Lait Cikini (disitu melulu) pada jam 10.00 pagi teng, acara dimulai dengan presentasi "Freelancing Done Right" dari saya sendiri. Rencananya ngomong 1 jam, kok molor sampai hampir 2 jam karena terlalu asik. Saya mencoba approach dari sisi management daripada freelancing business, dari mengatur waktu, dokumentasi, keuangan, marketing, dst. Juga dari sisi passion, drive, dan bagaimana menempatkan diri menjadi profesional. Intinya, untuk survive sebagai freelancer lah. Semoga memberi jawaban atas banyak pertanyaan dari kawan-kawan freelancer selama ini. Hope it helps.

Freelancing Done Right Seminar

Freelancing Done Right Seminar Acara dilanjutkan dengan makan siang dan coffee break sebelum dilanjutkan kepada topik kedua yaitu best practices of freelancing yang dibawakan oleh dedengkot Digital Grafis Studio; Harry & Ardy. Mereka membawakan proses-proses yang harus dilewati seorang freelancer menuju kemandirian secara individual, personal problems dan attitude dalam presentasi mereka berjudul "Freelance is not a RockStar". Mereka juga membahas bagaimana merubah cara mengerjakan pekerjaan menuju online, cara menjual dan mengantisipasi hal-hal yang buruk, terutama delays.

Freelancing Done Right Seminar Terakhir adalah guest speaker kita, Ollie. Dia yang menurut saya adalah seorang freelancer saat menjadi penulis pada awal karirnya, telah berhasil merubah passionnya menjadi sebuah usaha toko buku online dan ekspansi untuk memenuhi passion lainnya. Very inspiring.

Acara ditutup dengan pembagian sertifikat, foto-foto bersama, dan memperkenalkan teman-teman kami dari Fresh! dan webPM serta kegiatannya. Hopefully dalam waktu dekat kita akan membuat acara seminar yang lebih besar di kota lain. See you there.


Reviews of the event
- Review @ ruangfreelance.com
- Review @ Yopdesign's blog
- Review @ Salsabeela's blog




Photos from the events

Freelancing Done Right Seminar

Freelancing Done Right Seminar

Freelancing Done Right Seminar Freelancing Done Right Seminar Freelancing Done Right Seminar Freelancing Done Right Seminar
Freelancing Done Right Seminar Freelancing Done Right Seminar Freelancing Done Right Seminar Freelancing Done Right Seminar
Freelancing Done Right Seminar Freelancing Done Right Seminar Freelancing Done Right Seminar Freelancing Done Right Seminar

Monday, February 16, 2009

Manajemen Finansial untuk Freelancer

Artikel ini merupakan re-posting dari Ruang Freelance

Tak sedikit freelancer yang mengalami masalah dalam bidang kuangan, baik dari yang pemula hingga mereka yang telah makan banyak asam garam di dunia freelancing. Itu disebabkan karena banyak dari kita tidak pernah mengalami proses disiplin keuangan sejak kecil, dan sebagian besar dari kita adalah desainer, programmer, illustrator, dan bukan akuntan keuangan.

Ketidakmampuan kita dalam mengatur keuangan juga membawa kita pada masalah pricing, dimana kita sering kali bingung berapa harga yang pantas untuk diajukan kepada klien. Tak luput juga adalah masalah modal usaha jika kita harus membayar dimuka sebuah pekerjaan seperti cetak misalnya, membeli foto, ataupun membeli/upgrade perangkat hardware maupun software guna mendukung spek pekerjaan.

Mindset kebanyakan freelancer masih tertumpu bahwa dia bekerja sendirian dan bukan pada dia bekerja untuk dirinya sendiri. Seorang freelancer harus cepat sadar bahwa saat dia memutuskan diri untuk bekerja menjadi seorang freelancer, dirinya telah berubah menjadi sebuah institusi penyedia jasa. Dirinya kini menjadi sebuah perusahaan, dan layaknya sebuah perusahaan, dia butuh kapital.

Ada dua sistem mengatur keuangan yang simple dan dapat diadopsi dengan mudah oleh freelancer, yang pertama adalah metode “bagi hasil” dan yang kedua adalah metode “gajian”.

Metode Bagi Hasil

Seringkali diadopsi oleh freelancer yang baru sadar akan pentingnya keuangan yang baik, metode ini memaksa kita untuk menyisihkan sebagian pendapatan kita untuk modal usaha kita. Sebagai contoh adalah pembagian sesuai persentase, yaitu 60-40, dimana dalam setiap pendapatan uang akan dibagi 60% kepada diri anda dan 40% kepada perusahaan. Rasio persentase yang ideal adalah 40-60, dimana 40% masuk ke kantong anda dan 60% masuk ke rekening usaha anda. Namun rasio ini dapat anda rubah sesuai dengan kebutuhan anda.

Metode Gajian

Metode ini lebih bersih dan sesuai dengan pembukuan keuangan pada umumnya, namun lebih kompleks jika anda pemula. Inti dari metode ini adalah memberi diri anda gaji yang sesuai pada tiap bulannya. Berbeda dengan metode bagi hasil dimana sebagian persentase masuk ke rekening usaha, pada metode ini 100% dari penghasilan masuk ke rekening usaha.

Tetapkan gaji anda perbulan, dan gajilah diri anda tiap bulannya. Ini bukan berarti disaat keuangan usaha anda menipis anda akan terus digaji, tapi gaji anda akan dibuat sebagai hutang perusahaan, dan dapat dibayarkan jika keuangan usaha cukup.

Keuangan usaha juga dibuat batas minimumnya, sebagai contoh adalah anda membatasi keuangan perusahaan pada level 15 juta rupiah minimum, artinya saat keuangan pada angka 15 juta atau kurang anda tidak akan mendapat gaji. Dari sini anda dapat belajar soal prioritas keuangan.

Kedua metode ini memiliki tujuan yang sama, yaitu membagi keuangan antara diri anda sendiri sebagai pekerja dengan usaha freelancer anda. Tujuannya agar anda mendapat uang anda sendiri, dan usaha anda juga dapat berkembang dengan modalnya sendiri.

Jadi saat pekerjaan menuntut anda mengeluarkan uang dahulu, usaha anda yang keluar uang, bukan anda. Saat komputer anda rusak atau perlu upgrade, usaha anda yang akan keluar uang, bukan anda.

Keduanya bukan metoda yang gampang untuk dimulai, perlu sedikit disiplin. Jika sudah memiliki NPWP, anda dapat membuka rekening giro atas nama anda untuk usaha anda, sistem dimana anda harus menulis cek untuk mengeluarkan uang anda dijamin akan males untuk mengambil uang tersebut kecuali untuk urusan pekerjaan. Jika ingin menuju finansial yang sehat, silahkan mencoba.

Tuesday, December 30, 2008

Hidup di Jakarta Itu Mahal Ternyata...

Setelah membaca blognya Indirani tentang survey biaya hidup di Jakarta, gue jadi pengen ngitung pengeluaran gue. Kok agak takjub sih angka mereka bisa sampai Rp.13.000.000 sebulan. Kayaknya gak sampai segitu deh gue. Coba ngitung lagi deh :

Living Cost

  1. Belanja supermarket (termasuk susu anak, dan kebutuhan hidup lainnya) : + 900.000
  2. Belanja pasar basah @ 20.000 perhari : 600.000
  3. Tagihan listrik perbulan : + 315.000
  4. Tagihan PAM : 65.000 (jarang pake air pam)
  5. Tagihan air minum (galon) : 105.000
  6. Tagihan gas masak sebulan (1 tabung habis dalam 3 bulan, jadi harga dibagi 3) : 25.000
  7. Tagihan telpon : + 65.000 (jarang nelpon dari rumah)
  8. Tagihan seluler (Chandra & Rika, prepaid) : 103.000
  9. Cable TV & Internet : 295.000
  10. Kebersihan & keamanan : 50.000
  11. Nanny buat Vira (termasuh uang jajan) : 450.000

Transportation costs

  1. Bensin sebulan : 500.000
  2. Ongkos bengkel (diluar reparasi, 2 bulan sekali jadi dibagi 2 harganya) : 300.000
  3. Cicilan mobil : 750.000

Kalo ditotal : + Rp. 4.523.000 perbulan.
Wuih, naik sekitar 2 kali lipat sejak gue punya Vira. Ini belum nanti kalo Vira dan Arkan masuk Sekolah. Pusing juga ya kalo dihitung. Alhamdulillah kalo gak dihitung kita kok bisa kerasa cukup aja sebulan, merasa sisa lebih malah. Pas dihitung baru kerasa kalo sisa gaji dikit amat yak. Ini aja belum ngitung tabungan pendidikan anak dan Asuransi kesehatan + jiwa + rumah + mobil yang dibayar tiap awal tahun atau 5 tahun sekali. Belum biaya tak terduga macam kondangan dst.

Mahal juga hidup di Jakarta, tapi masih bersyukur masih jauh dibawah angka 13jt.
"Siapa suruh datang Jakarta... siapa suruh datang Jakarta..." *berdendang dengan sumbang*

Silahkan dikomentari, siapa tau punya kiat yang lebih hemat.

Monday, December 29, 2008

Flickr Party : The Report

Group Shot 03
Flickr Party Group Shot

Cafe Au LaitAlhmadulillah, terlaksana juga akhirnya kopdar akhir tahun anggota Flickr yang kali ini berjudul Flickr Party. Acara yang dihadiri 32 anggota flickr (36 if we count in the Flickr babies; Aina, Kei, Kirnana & Noe) ini diadakan di cafe Au Lait di kawasan Cikini, Menteng.

Show Tunes by The Fabulous ChaeraniWe had the usual suspects of Flickr Kopdar, and some new faces. We were happy that this event managed to accomodate Flickr members from abroad like Thalia+Ari+Aina from Singapore, MoRiza from New York, and Baby Karenina Karyadi from Los Angeles, who are currently home in Indonesia for the holidays.

Attraksi utama malam itu adalah the fabulous Chaerani on both piano and accordion, playing show tunes, a crowd pleaser and also popular with the flickr babies. From "la vie en rose" to the theme songs of each Playhouse Disney shows, she played them all.

All and all it was a lovely evening, hope to see more of the flickr gang in the 2009 kopdar, and the Malindo Flickr Kopdar in Solo 2009. In the meanwhile, enjoy the pictures.

Tuesday, December 16, 2008

FLICKR PARTY

We're Ready...

Calling all Indonesian Flick users for the ultimate year-end Kopdar experience. Meet other flickr members, have great conversation, be entertained, and most of all take lots and lots of pictures.

Come to cafe au lait at Jl.Cikini Raya no.17, Menteng, Jakarta Pusat on Sunday the 28th of December 2008 at 19.00 to 21.00. Free snack (while it last), food and drinks are strictly BSS (bayar sendiri-sendiri). See you there!

Thursday, December 11, 2008

Escrow: It's a good idea

As a former freelancer, I know that a freelancer's greatest fear is dodgy clients that could possibly not pay. The same goes with clients that hire freelancers. Clients usually go for the cheapest possible freelancer with good portfolio, those freelancers are mostly new ones that have just left or are still working full time. Its no secret that people who are good at what they do, doesn't necessarily make good freelancers*. These freelancers either miss their deadlines, or just run away, leaving the client high and dry.

From a freelancer's point of view, I'd ask for a 40% down payment. But then as a client, I think, "will I get that 40%'s worth?". So now you have 2 sides in constant battle over what to do. How to approach? will I get paid? Will I get my money's worth. Both sides equally have that risk.

Google they keyword "escrow" now. Wait, I'll make it easy, just click here for English or here for Indonesian.

A brain fart (what I call my ideas, since I have one every hour or so) hit me one October morning in 2007. As you can see, escrow isn't something new, yet is unavailable in Indonesia. I typed up a nifty 240 page business plan for a local escrow company, but none of the 80 people I proposed to took a bite, thats why I'm sharing it here, maybe someone will have more luck.

While not sharing what my business plan is, the basic is that to set up a third party financial institution that clients will put their project money in, and deliver full payment to freelancers. Its that simple. Freelancers reliefs to the idea that their money is there in full and ready to be paid, and the client gets a relief knowing that they won't lose financially if the freelancer bails. When the freelancer finishes his job, he just shows his final work progress to the escrow company that holds a record of the freelancer's job description and release the funds.

What does the escrow company get? How would the business run? Will this be a solution for Freelancers & Clients?
I'll leave those answers to your imagination.

Monday, December 08, 2008

So That Others May Study

Last Wednesday (December 3rd 2008) I signed an MOU with the Raflesia foundation and Bina Insani foundation to educate street children, giving them a college education to earn a degree.

MasTer (Masjid Terminal) is a group of people who give school education to the homeless & street children. Those who have a hunger to learn and have received their high school diploma from MasTer will be sent to study with us for free.

So That Others May Study

Trianandra provides free books, staff and docent. We got cheap rent from Raflesia foundation of 250.000 a month to use their facilites consisting of one class and an office at their school in Depok.

If you would like to support by donating to our programme, a child's tuition costs Rp.60.000 per month to study. Each child studies for 3 years. The tuition money will pay for the docent's transport (docents teach for free), rent, electricity, water, and sylabus.

Contact Dani at Trianandra at +6221 4754412 for more information on how you can help out or donate to our programme.

Saturday, December 06, 2008

Bericara di FreSh 4 - Freelancer vs Job Publishers

FreSh (Freedom of Sharing) adalah komunitas lokal yang berkembang bagi mereka yang bekerja khususnya di industri kreatif & internet. Komunitas ini sudah beberapa kali mengadakan pertemuan (dimana selalu bentrok dengan jadwal mengajar saya), namun pada pertemuan ke-4 mereka, tema yang diangkat adalah; "Freelancers vs Job Publishers". Selain merasa tertantang untuk datang, kebetulan belum ada pembicara dari sisi Job Publishers.

Chandra: Set your terms!
FreSh 4 : the usual suspects by Chandra Marsono, on Flickr FreSh 4 : om Harry's Presentation FreSh 4 : Group Shot!! FreSh 4 : Group Shot!!

Presentasi yang saya bawakan sebetulnya menyentuh dua dunia, yaitu Freelancer dan Job Publisher. Dari sisi freelancers adalah kepentingan untuk mengorganisir pekerjaan dan memproteksi diri dari client, sedangkan dari sisi job publisher adalah mengenai memulai usaha, basic management dan memperlakukan freelancer baik sebagai tenaga kerja yang penting dan memproteksi diri dari freelancer nakal.

Presentasi malam itu bisa dilihat di SlideShare.com
Selain aku, ada beberapa pembicara lain dari rekan freelancer seperti Aria Rajasa dan Harry JH yang membawakan topik-topik menarik (walau pas Aria hampir selesai presentasi, aku baru datang)

Related Links:
- Chicken Strip 129: Client From Hell
- FreSh! 4.0: Berbagi Pengalaman Seputar Dunia Freelance
- Detik i-Net: FreSh Berbagi Pengalaman Seputar Dunia Freelance
- “Freelancer VS Jobs Publisher” @FreSh!
- FreSh 4.0

Friday, December 05, 2008

Father & Son Moment

While the girls were still asleep, I took Arkan in my arms and sat together while he slowly wakes up from the sunrise. We sat together looking at each other. I don't know whats going on in his mind, but mine was in complete disbelief; "This little guy is my son".

Me & My Boy

There is no manual for fatherhood, so I hope I can be the best for Arkan.

Tuesday, November 18, 2008

IndoDefence 2008

Look Ma, I Have A Gun!
Holding the SS2, Indonesia's latest main combat rifle made by Pindad.

IndoDefense 2008 is Indonesia's premiere weapons and defense exhibition, held once every two years by Napindo. I went to the last one in 2006, and may I say that the 2008 event was way better than I expect (seeing that the IndoDefense 2006 didn't please me much).
Held at the Airforce's Halim Perdanakusuma Airport, this year's event had airshows and proper vehicle demostrations. Its 3 times better and bigger than the last event held in Kemayoran. The main theme is also about local defense, vehicle and weapons manufacturers.
I arrived on the 2nd day of the show which was opened to guests and industry professionals. Being located in an airforce base, I had to pass several checkpoints. Some are polite, one is annoying (probably because unlike the others, he works alone and in no shades). I got through and registered.
My entrance to the exhibition grounds was welcomed by an F16B rushing just above me. That is just so cool. Unfortunately it was their final pass, so the next thing I know it was landing. Wished I could've enjoyed it more.

CN235-220 MPA Surveilance & Control
CN235-220MPA (Maritime Patrol Aircraft) made by PTDI

The CN235-220 MPA caught my eye as I walked into the runway. Its PTDI's latest variant of their CN235 aircraft, this one made for maritime surveilance, the first in Asia. Armed with Thales radar, Buble obeservation windows, FLIR (forward looking infra-red), and a high resolution video and topographic camera. These will be operated by the Navy in 2010, replacing the old CN212.

Next are the NBO150 attack hellicopters and the Huey Bell412, both retrofitted since both toys are made in the 70s. Able to carry heftier payloads and re-armored with twaron, no avionics nor sensing capabilites are upgraded. Just stronger engines, tougher resistance and more guns.

TNI AD's NBO105 Retrofit Bell Huey 412 Retrofit
Rocket's Point of View

On show also outside were two APS6x6 APC tanks, both manufactured by PT.Pindad and electronically enhanced by PT.LEN. Shown were the Army's and UN version. There were also noteable vehicles made by local manufacturers, but the APS6x6 is the show stealer. Even the Renault's star, the mighty Sherpa A3 wasn't getting that much attention.

APS 6x6 Panser APS 6x6 Panser : UN Edition

Other impressive feats were the airforce research lab's UAV and Lapan's rockets. Pindad also brought a full size mockup of their future 6x6 light tank. The exhibition was followed by several Asian and European countries. I'm really hoping to see the next one in 2010.

Saturday, November 15, 2008

The Joy of Teaching

I don't know why I took such a long hiatus from teaching, it feels great and something I really love doing.
Last night was my second week teaching both graduate and post graduates on "International Aspects of Management" at the Sampoerna Strategic Square, and I really enjoyed it. I love the interaction, motivating people who were shy to speak up, sharing my views, knowledge, etc. I have no Idea why I stopped.

The last time I taught in a class was 2 years ago. I had no complaints back then, I just stopped because I had a big project with a permanent client. But after that project finished, I didn't know why I didn't get back on the horse again.

To my friends, colleague, or whoever read this, take a stab at teaching. The satisfaction is more than you could ever expect.