Hello!
Welcome to my little blog. Besides the stories, news, perspectives and rantings below. My last tweet was :
""

follow me on Twitter or follow me on PLURK

Wednesday, February 07, 2007

Relief Effort (Operation Nekad)

Beberapa karyawanku terjebak banjir di berbagai daerah di Jakarta, bahkan ada yang sampai rumahnya kelelep hingga genteng. Walau anak istri mereka telah mengungsi, mereka masih tetep rela menunggu rumah, walau sendirian nagkring diatas genteng. 2 Lokasi terparah terdekat adalah Cipinang dan Kelapa Gading. Bermodal perahu karet (pinjeman) dan nyali nekat (karena ga ada pengalaman melakukan ini kecuali arung jeram pas outing), kami menuju Cipinang dahulu. Bersama Roso dan mbak Sri, Senin jam 8 Pagi kita ke rumah pak Effendi (Pendi) yang sedang duduk di lantai 2 rumahnya.

"Ini udah seret pak, kemaren saya masih tidur di genteng" katanya. Walau sudah di lantai dua, air masih sebetis. Pak Pendi sendirian disini sejak hari Sabtu. Kita membawakan nasi bungkus, Indomie, snack, dan briket, tak lupa satu ransel baju bersih yang telah disiapkan istrinya. 3 hari diatas genteng hanya makan indomie dan tanpa teman (rumah tetangga yg lain 100% kelelep), kok bisa betah. "Yah, rumah saya harta benda yg paling besar sih" katanya sambil tersenyum dan memakan nasi bungkus.

Masih di daerah Cipinang, kita kemudian menuju ke rumah bu Titi. Disana masih banjir se-Paha. Sesampainya sembako kami ludes diambilin orang. Untung mbak Sri bisa nyisain satu buat dikasih suaminya bu Titi. Kita menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam di Cipinang.

Setelah istirahat, makan, dan stok sembako, kita menuju Kelapa Gading. Aku parkir mobil di pulo-mas dan kita mulai naik perahu karet dari rumah susun sampai dengan pos polisi dekat mall (kita lewat perumahan yg banjir). Lumayan capek ngedayung.

Dari sana perahu kita angkat ke ojek gerobak dan dibawa sampai Gading ujung. Walau namanya ojek gerobak, tapi chargenya gila-gilaan, 100 ribu. Disana sempet mendayung sebentar sebelum akhirnya dibantu oleh seorang warga dengan Jetskinya, kita ditarik hingga dekat rumah Ranti (hampir deket Plumpang belakang). Disana kita harus angkat perahu karet melewati jembatan dan mendayung lagi. Ranti sendiri sudah mengungsi ke rumah tantenya di Karet, tapi kita membagikan sembako ke ayah dan adiknya yang menunggu dirumah. Kita drop sekitar 8 box indomie dan briket untuk masak, serta baterai senter dan lilin. Total di kelapa gading bolak balik kita menghabiskan waktu sekitar 5 1/2 jam. But its all worth it... Aku sampai rumah jam 18.45, akhirnya.

Besok ga ngantor, badan pegel semua...
Lantaran sudah 5 hari mati lampu, jadi ga ada fotonya. Bingung mo charge batre kamera dimana.

4 comments:

Wati said...

duh Chan... perjuanganmu... eh, sodaraku juga ikutan ke posko2, dapur umum, masak nasi bungkus buat yg kena musibah... padahal dianya sendiri tinggalnya di apartemen Rasuna, ternyata musibah gini himahnya bikin rakyat makin solider ya Chan...

Chandra Marsono™ said...

Ya gimana ya... kasihan sih kalo rumah dah kelelep gitu. Mana harta benda banyak yg ludes oleh banjir. Cuma itu yg bisa kulakukan, not much. Cuma bersyukur aja gue cuma mati lampu dan ngga' sampai kelelep..

Linda said...

kok ga ngajak Sinta dan anak-anak SMAPAInya?? pasti seru tuh... Eh, si Nuning gimana tuh?

Chandra Marsono™ said...

Ga tau deh soal Nuning. Lha, loe kebanjiran ga? Kelapa Gading naik sampai mana?