Hello!
Welcome to my little blog. Besides the stories, news, perspectives and rantings below. My last tweet was :
""

follow me on Twitter or follow me on PLURK

Thursday, October 02, 2008

Minal Aidzin Wal Faidzin

Maaf karena sudah lama tak posting.
Maaf karena sok sibuk dengan segunung pekerjaan.
Maaf karena tidak sering nengok ke blog teman-teman.
Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon maaf hamba ini yang penuh dengan kekurangan.

All things aside, we had an awesome Eidul Fitri, and we hope you all had one too.

Thursday, July 31, 2008

An update...

Wow, its been a while since I last updated.
I've been really busy lately, and with the new baby coming and all, things have been hectic recently. I'm just poping in to give a shout all that I'm still kicking and I'll hopefully update as soon as I get the chance.

Monday, May 12, 2008

Beachy Weekend

We went to Ancol beach on Saturday Morning.
My little girl wasn't feeling well, her cough hasn't stopped, and my mom said that a good morning sea air should help a lot, and she was right.
Ancol beach itself has grown. Unfortunatelly it still site between Jakarta's poluted harbour to the east and factories to the west. you can still see them in the horizon. But for the moment, enjoy the pictures.

Dermaga Ancol

You Can't Fish Here Fisherman's Wharf Beach Bums Dermaga Ancol

Wednesday, April 23, 2008

Mari Menggambar Dan Mewarnai


Did the illustration above using Adobe Illustrator CS.



Started colouring process on Adobe Photoshop:
  1. Basic skin tone
  2. Lip tone plus gloss
  3. Facial mapping, showing height, lighter colour means higher terrain
  4. Using the smudge tool from Photoshop, carefully smooth out the skin
  5. Finished smudging process, needs a lot of patience, did this in an hour
  6. Adding volume to the eyes, chin, and jaw. Added red corners of the eyes
  7. Make small white dots and pull them out with the smudge tool using the smallest brush. Takes time. If you have Alien skin plug-in, you can use the "Fur" option to go faster.
  8. Giving volume to hair, erase parts that are low adjusting to light

And Finito....
What do you think?

Monday, April 14, 2008

Duh, anak gue nyanyi dangdut...



Ini nih akibat terlalu sering ikut kakeknya. Tiap pagi sambil kakeknya nyuci mobil, dia pasti di dalam mobil main sambil mendengarkan musik-musik favorit kakeknya, yang notabene: dangdut bok. Alhasil anak gue apal lagu-lagu dangdut. Ampun DJ....

Sunday, April 06, 2008

Rika's Graduation



Setelah 4 tahun mencari uang untuk mengkuliahkan istri, akhirnya lulus juga dia. Bangga banget bok, capek cari duit langsung ilang seketika, gimana ya rasanya pas ntar anak gue lulus kuliah?

Monday, March 24, 2008

My Wife is Pregnant Again!!!

Am I a baby making machine or what??
Just 1,5 months after Rika and I decided to have a new baby, and boom, we got it. I'm like ecstatic with joy and happiness. I'm going to be a dad, again. Yay...

Please pray for us and wish that the baby will be healthy and grows, because the first 3 months of pregnancy is a very decisive moment. :-D

Thursday, February 28, 2008

My Parent's 39th Anniversary

A year shy of their 40th, my parents celebrated their 39th wedding anniversary last Sunday at our Villa in Puncak. Everyone was there, my brothers and sisters with their in-laws and mine, and not forgeting the grandkids, all 6 of them.

Happy Anniversary Mami & Papi
Horsey Ride
Rika and I bought them chocolate mocca cheese cake (wow) from help celebrate. After the photo sessions, so on and so forth, the whole family spent some time hiking to anearby village and a river not too far from the Villa. Vira, Rika, Natasha and Nina even took a horse ride.

The Villa has a big garden with a few swings and slides, so the kids aren't bored, plus I got them some soaps and loops for them to blow bubbles on.

But while almost all the family was outside, we had an unwanted visitor sneaking in the Villa. Somehow he sneaked in and stole my dad's Nokia Communicator phone. It kinda put a stop on our smiles for the day.

We didn't let it effect us too much, we had a good rest of the day before we left for home. That thief will have his day one day, a fate worse than just a missing phone.

Tuesday, February 26, 2008

My Hero



From a mailing list:

Kuak Konspirasi Bikin Senjata Biologi dari Flu Burung Buku Menkes Fadilah Bikin Gerah AS-WHO
Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).
Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).
Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.
Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It's Time for the World to Change.
Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.
"Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2).
Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.
Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.
"Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan
kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.
Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.
"Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar," katanya.
Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.
"Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush," ujar menteri
kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.
Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran.
"Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran.
Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.
Mengubah Kebijakan
Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia.
Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun.
Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005.
Majalah The
Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.
"Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi, " tulis The Economist.
The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam.
Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.
Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan
diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.
Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium
litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya
ternyata sama. Tapi, mengapa WHO
CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?
Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus.
Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung.
Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.
Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.

Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.
Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC.
Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS.
Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui.
Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.
Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?
Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.
Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.
Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi.
Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.
Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil,
transparan, dan setara.
Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.
Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

Saturday, February 09, 2008

What the F@$#??!?!?!!

Indian Thriller but in Malay... Weird shit, I think I need therapy after watching this.

Wednesday, February 06, 2008

Talk Like Chinca

Bagi mereka yang fans berat sinetron Indonesia yang sangat tidak mendidik dan sangat fans sekali pada Cinta Laura, tapi gak ngerti dia itu ngomong apa, sekarang ada nih kamus lengkapnya. Silahkan di simak : http://wiki.cahandong.org/Cinta_Laura.

Dancing Baby

Im's Back In Jakarta

Road to Airport is Flooded

Last Saturday, Im arrived on the 9 AM AirAsia flight from KL. Unfortunately, she arrived at a bad time. Jakarta just started to recover from a seasonal flood, and alas, I wasn't able to pick her up from the airport. She had to take the bus and was stuck in the alternative route traffic for almost 5 hours.

Gone in 60 Sec... 30 ActuallyShe was afraid of missing the bus, she forgot to buy something to eat. But luckily we had prepared a meal for her once she arrived at our house, and boy did she ate....

After a few hours of a well deserved rest (which Im spent most of it by playing with Vira), Im finally accomplished her mission: Eating Mie Ayam. Yup, we took her to Bakmi Naga in Keramat and she ordered a big bowl of the house's specialty.

After a busy day, we all went home. Im's friend is due to arrive the next day. Enjoy the photos on Flickr

Mmmmmuach! Finally, Lunch!
At Bakmi Naga Jl.Keramat Nasi Tim Ayam Jamur
Vira and auntie Im I Was There! Mission Accomplished

Monday, February 04, 2008

My Mini City

Please do stop by for a visit, be a citizen just go to: http://chandrapolis.myminicity.com/

Lilypie 3rd Birthday Ticker Lilypie 1st Birthday Ticker